TANJUNG SELOR – Kanker serviks dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Kondisi ini membuat pemeriksaan dini menjadi penting agar risiko penyakit dapat diketahui lebih cepat dan ditindaklanjuti sebelum terlambat.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Hj. Sipta Meylina Denny Harianto mengingatkan, perempuan agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan kesehatan. Imbauan itu disampaikan dalam kegiatan deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan HPV DNA Test dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) di UPTD Puskesmas Tanjung Selor, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati HUT ke-14 Provinsi Kaltara dan HUT ke-27 DWP. Namun, Sipta menegaskan, pemeriksaan kesehatan perempuan tidak semestinya berhenti sebagai agenda peringatan tahunan.
“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian nyata terhadap kesehatan perempuan, keluarga, dan masa depan generasi mendatang. Kanker serviks perlu mendapat perhatian khusus karena pada tahap awal sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas,” ujarnya.
Menurut Sipta, deteksi dini membantu menemukan indikasi perubahan sel yang memerlukan penanganan medis. Karena itu, perempuan didorong memanfaatkan layanan skrining sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan hanya ketika mengalami gangguan atau keluhan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan layanan skrining IVA dan HPV DNA sesuai indikasi medis serta ketersediaan layanan. Mereka juga menerima edukasi dan praktik Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kanker payudara.
Sipta mengatakan, peningkatan temuan kasus kanker tidak selalu berarti kondisi kesehatan masyarakat memburuk. Menurut dia, temuan tersebut juga dapat berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjalani pemeriksaan serta kemampuan tenaga kesehatan mendeteksi kasus lebih cepat.
“Pemeriksaan dini membantu kita mengetahui kondisi kesehatan lebih awal sehingga penanganan yang tepat bisa segera diambil. Jadi, meningkatnya temuan kasus juga berarti makin banyak perempuan yang terselamatkan karena tertangani lebih cepat,” jelasnya.
Meski demikian, skrining bukanlah akhir dari proses pemeriksaan. Peserta yang mendapatkan hasil dengan indikasi tertentu perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan medis.
Sipta mengingatkan perempuan agar tidak merasa takut atau malu ketika menjalani pemeriksaan. Ia juga meminta peserta tidak mengabaikan rekomendasi dokter apabila hasil skrining menunjukkan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
“Jangan takut atau malu untuk memeriksakan diri. Hasil skrining adalah informasi awal agar kita bisa mengambil langkah medis yang tepat. Apabila ada temuan, ikuti petunjuk tenaga kesehatan dan jalani pemeriksaan lanjutan secara disiplin,” pesannya.
Ia berharap kegiatan tersebut mendorong perempuan semakin peduli terhadap kesehatan diri dan menjadikan pemeriksaan dini sebagai kebiasaan. Menurut Sipta, kesadaran menjaga kesehatan perlu dimulai dari diri sendiri sebelum ditularkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Jangan menunggu sakit baru peduli, dan jangan menunggu terlambat untuk bertindak. Ingat, perempuan yang sehat akan jauh lebih kuat dalam merawat keluarga serta berkontribusi positif bagi masyarakat,” pungkasnya. (rk)




