TARAKAN – Minat masyarakat untuk mendapatkan keterampilan usaha di Tarakan melampaui kuota pelatihan yang tersedia. Dari sekitar 350 orang yang diundang, hampir 500 orang datang untuk mengikuti pelatihan calon wirausaha baru, sementara peserta yang dipilih hanya 90 orang.
Antusiasme itu menunjukkan besarnya ketertarikan masyarakat untuk mengembangkan usaha mandiri. Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar memberikan pelatihan, melainkan memastikan keterampilan yang diperoleh benar-benar menjadi modal untuk membangun usaha produktif.
Anggota Komisi VII DPR RI, Hj. Rahmawati Zainal mengatakan, pelatihan tersebut dirancang untuk membekali masyarakat dengan keterampilan praktis yang dapat dikembangkan menjadi usaha, bahkan dari skala rumahan.
Tiga bidang yang dilatihkan meliputi pengolahan kopi atau barista, sablon kain, dan reparasi kendaraan roda dua. Ketiganya dinilai memiliki peluang untuk dirintis dengan skala usaha yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
“Misalnya reparasi kendaraan roda dua, mereka bisa memulai dari garasi rumah. Begitu juga usaha kopi yang bisa dijalankan menggunakan gerobak, serta sablon kaos sesuai pesanan. Keterampilan ini bisa menjadi bekal untuk membangun usaha sendiri,” kata Rahmawati, Senin (12/10/2026).
Menurut dia, penguasaan keterampilan menjadi tahap awal sebelum peserta mendapatkan dukungan peralatan maupun akses permodalan. Bantuan peralatan, kata dia, harus diberikan ketika penerimanya sudah memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara optimal.
“Skill-nya harus dibangun lebih dulu. Kalau sudah mahir, peralatan bisa kita perjuangkan agar mereka lebih mudah mengembangkan usaha. Jangan sampai alat diberikan, tetapi belum bisa digunakan secara maksimal,” ujarnya.
Rahmawati mengungkapkan, jumlah masyarakat yang datang melebihi perkiraan awal. Dari sekitar 350 orang yang diundang, hampir 500 orang hadir untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Kami awalnya mengundang sekitar 350 orang, tetapi yang datang hampir 500 orang. Ini menunjukkan minat untuk mengembangkan usaha cukup besar,” katanya.
Tingginya minat tersebut, menurut Rahmawati, menjadi alasan perlunya memperluas pembekalan keterampilan bagi masyarakat. Kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di sejumlah wilayah Kalimantan Utara, termasuk Nunukan dan Tanjung Selor.
Setelah menguasai keterampilan dan mulai menjalankan usaha, peserta juga didorong mengakses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Rahmawati menyebut pembiayaan hingga Rp100 juta dapat diakses tanpa agunan tambahan sesuai ketentuan yang berlaku dan hasil verifikasi.
“Kalau keterampilan sudah ada dan usaha mulai berjalan, berikutnya kita dorong akses permodalannya. Harapannya, mereka bisa mengembangkan usaha secara bertahap dan nantinya membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian RI, Yedi Sabaryadi mengatakan, industri kecil dan menengah (IKM) berperan penting dalam menopang perekonomian, terutama melalui penyerapan tenaga kerja dan perluasan kesempatan berusaha.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, jumlah IKM nasional pada 2024 mencapai 4,45 juta unit usaha atau sekitar 99,70 persen dari seluruh unit usaha industri. Sektor tersebut juga menyerap hampir 13,06 juta tenaga kerja.
Di Kalimantan Utara, terdapat sekitar 7.511 usaha industri mikro dan kecil pada 2025 yang menyerap hampir 14.000 tenaga kerja. Sementara itu, kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian Kota Tarakan disebut mencapai 10,67 persen.
“Penumbuhan wirausaha baru menjadi langkah strategis untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Potensi IKM di daerah perlu diperkuat agar semakin banyak usaha yang tumbuh dan berkembang,” kata Yedi.
Meski demikian, pelatihan keterampilan perlu diikuti pendampingan teknis agar calon wirausaha mampu menjaga kualitas produk, mengakses pembiayaan, dan memperluas pemasaran. Karena itu, ia berharap dinas terkait tidak berhenti pada penyelenggaraan pelatihan, tetapi juga memantau perkembangan usaha para peserta.
“Setelah kegiatan ini, kami berharap Dinas Perindustrian terus mendampingi dan memantau perkembangan usaha peserta. Keterampilan yang diperoleh perlu dikembangkan agar benar-benar menjadi usaha produktif dan mampu bersaing,” ujarnya.
Besarnya minat masyarakat menjadi modal awal bagi pengembangan wirausaha di Tarakan. Namun, keberhasilan program ini pada akhirnya akan ditentukan oleh seberapa banyak peserta yang mampu mengubah keterampilan menjadi usaha berkelanjutan, menghasilkan pendapatan, dan membuka lapangan kerja baru. (rz)




